Monthly Archives: Juli 2014

Pengalaman saat wawancara kerja

Berbicara tentang wawancara kerja, saya adalah salah satu orang yang sering banget melamar kerja tapi jarang banget mendapatkan panggilan wawancara kerja. Tapi sebelum jadi abdi negara seperti sekarang ini, saya sudah pindah kerja sebanyak 3 kali,dan berarti saya sudah 3 kali merasakan yang namanya wawancara kerja.
Wawancara pertama, terjadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Kota Bandung. Wawancaranya cuman berlangsung 10 menit aja. Dan pertanyaannya : “bisa program apa aja?” Dan sesuai dengan kemampuan saya, saya jawab AutoCad sama GIS. Udah, gitu aja. Masyuuuuk, hehehe..
Wawancara kedua, terjadi ketika saya bekerja di sebuah konsultan pembangunan. Wawancara juga cuma 10 menit, dan pertanyaan sama kayak pertanyaan perusahaan pertama. Dan masyuuuk lagi 😀
Wawancara ketiga, terjadi ketika saya mendapat panggilan kerja di sebuah bank BUMN setelah melewati beberapa tes. Banyak banget pertanyaannya tapi pertanyaan yang paling saya ingat ada 2, pertanyaan pertama : “disini gaji yang ditawarkan hanya segini mbak, kira-kira cukup nggak buat beli make up yang biasanya dipakai sehari-hari sama mbaknya?”
Dalam hati, udah pingin aja tuh jawab kayak gini : “Emang berapa ratus juta sih Pak yang bisa dihabisin buat beli make up aja?”. Tapi berhubung demi mendapatkan pekerjaan ini, jawabnya ya seriusan dikit lah pastinya. Eh tapi setelah nonton infotainment, baru sadar kalau banyak artis yang buat urusan make up bisa sampai ngabisin ratusan juta rupiah *langsung lap keringat.
Dan pertanyaan kedua yang saya ingat : “Mbak-nya sudah punya pacar?” Heran deh, ini wawancara kerja apa biro jodoh sih?hehe.. Dan Alhamdulillah masuk juga.. ^_^
Kalau buat saya, saat akan menjalani wawancara kerja akan lebih baik kalau kita bersikap apa adanya saja. Jangan melebih-lebihkan dan jangan dikurang-kurangi. Yang penting kita nggak grogi, berpakaian dan berkata sopan dan waktu masuk ruangan wawancara tidak lupa membaca doa. Yang penting kita sudah berusaha. Hasil akhirnya, kembali sama yang di atas. Kalau emang rejeki kita, pasti bakalan datang ke kita juga. Betuk kan? ^_^

career-first_cover
Sumber gambar dari sini

Iklan

Tentang si Sulung (Part I)

Sejak kelahiran adiknya (Agha, 2m), si Sulung menjadi lebih aktif daripada biasanya. Apalagi ketika saya sedang menggendong atau menyusui adiknya, si Kakak selalu mencari perhatian entah itu dengan cara berteriak-teriak agar adiknya tidak bisa tidur ataupun menyuruh saya menaruh sang adik agar bisa bermain dengan dia.
Meskipun banyak sekali teori yang mengatakan bahwa kita harus memberi pengertian pada sang kakak akan kehadiran sang adik, tetap saja pada prakteknya itu tidak mudah. Apalagi saat ini Abrar masih berusia 4 tahun lebih 1 bulan, yang mana usia-usia segitu pastinya si anak sedang dalam masa ingin diperhatikan. Dan menurut saya wajar saja kalau dia sedang masa transisi dari menjadi anak tunggal menjadi seorang kakak. Yang dulunya saya hanya fokus memperhatikan dia, sekarang dia harus berbagi perhatian dengan adiknya.
Kadang merasa bersalah juga karena tanpa saya sadari saya sering memarahi dia jika dia berteriak-teriak sebagai bentuk protes ketika saya menggendong adiknya sedangkan dia juga sedang ingin ditemani. Kadang saya juga merasa bersalah karena terlalu cepat memberikan dia seorang adik padahal dia sedang ingin diperhatikan. Dan kadang-kadang saya juga merasa menuntut dia terlalu banyak karena di usia-nya yang baru 4 tahun saya secara tidak langsung memaksa dia untuk dewasa dengan menyuruh dia mengerti artinya berbagi.
Tapi merasa bersalah saja juga percuma, toh sudah kejadian. Akhirnya yang bisa saya lakukan sekarang tetap seperti teori-teori sebelumnya. Mengajarkan pada Abrar tentang artinya berbagi kasih sayang dengan sang adik. Semoga saya tetap bisa bersabar. Dan semoga saya bisa menjadi ibu yang baik buat 2 putra saya, amin. Tetap semangat ^_^