Belajar sabar pada sang guru sabar

sabar
Sumber gambar dari sini
Menurut saya, selain ilmu ikhlas, ilmu yang sangat susah dipelajari adalah ilmu sabar. Sampai saat ini pun setelah saya sudah memiliki anak, setelah punya dua anak tepatnya. Sebagai ibu, entah ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga, saya yakin sekali semua ibu sedari pagi sudah bekerja, entah itu memasak, menyiapkan sarapan pak suami, anak-anak,  membersihkan rumah, mengantarkan anak ke sekolah ataupun pekerjaan lainnya yang nggak ada habisnya, saya yakin sekali pasti kita merasa sangat lelah ataupun penat dengan rutinitas yang sama setiap harinya.
Itulah yang akhir-akhir ini sedang menimpa saya, ibu muda yang cantik, yang kadangkala capek dengan pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor yang kadang terbawa sampai kerumah.Jika sudah dirumah, apalagi imbasnya kalau bukan 2 balita ganteng. Kayaknya nggak ada benernya aja semua yang ada dirumah. Mainan berantakan, marah. Makanan kececeran, marah. Kotak susu uht nggak dibuang di sampah, marah. Pe-er belum dikerjain, marah. Terutama pada si sulung yang kayaknya saya pingin si sulung segera sma aja biar bisa ngerjain pe-er sendiri plus nggak gangguin adiknya mulu. Belum lagi ngajakin main Catur atau ular tangga plus si bungsu yang juga ngajakin main bongkar pasang padahal emaknya ini udah pingin segera naruh badan di kasur aja. Alhasil makin naik deh volume suara si emak yang dalam kasus ini adalah saya.
Dan penyesalan nggak pernah datang didepan. Setelah anak-anak tidur, barulah saya sadar betapa saya yang sering mengikrarkan diri saya sebagai mama terbaik didunia buat anak-anak saya berubah menjadi mama terjahat buat anak-anak saya. Namun, para guru sabar saya ini (lagi-lagi) mengajarkan pelajaran sabar pada saya. Bahkan setelah saya marahi tadi, tidak pernah terlihat rasa sakit hati di mata anak-anak saya, terutama si sulung. Bahkan si kakak sebelum tidur tetap memeluk saya dan mengatakan bahwa dia menyayangi saya. Tanpa ada dendam sama sekali. Mewek deh emaknya minta maaf soalnya tadi sudah marah-marah. Dan sekali lagi para guru sabar ini mengajarkan arti sabar yang sesungguhnya. Kalau si bungsu (2,5th) mungkin memang belum mengerti. Namun si sulung (6,5th) yang sudah mengerti tentang perasaan hati malah meminta maaf karena tadi sudah membuat saya marah..
Duhai ibu, tidak perlu jauh-jauh belajar ilmu sabar, cukup pandang mata anak-anak kita. Mereka adalah guru sebenarnya dari kesabaran…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s